Eksistensi Mendahului Esensi

Terbukanya  (baca: coming out) individu manapun, dalam kondisi apapun yang memfasilitasi atau mencegahnya, selalu merupakan tindakan personal yang intens, pengalaman yang menyerupai apa yang dinamakan Sartre sebagai “pilihan orisinal” (original choice), dengan kata lain, pilihan yang setiap orang secara bebas diambil seseorang untuk kehidupannya sendiri. Tentu saja, kini setelah semua yang kita pelajari dari psikoanalisis, antropologi, lingusitik, sosiologi, dan seterusnya,  menjadi sulit untuk menerapkan filsafat kebebasan Sartrian ini sepenuhnya,  yang  mengandaikan bahwa kesadaran hanya transparan bagi diri sendiri, atau setidaknya, bahwa kesadaran hanya terbatas dalam kesadaran itu sendiri. Kita telah melihat bagaimana selama ini struktur-struktur sosial, sejarah, dan seksual dituliskan ke dalam tubuh dan pikiran individu, bagaimana struktur-struktur ini menghasilkan determinasi-determinasi yang tidak dapat dianalisis lewat pengertian tentang pilihan sadar. Misalnya, dapat dilihat bagaimana tindakan membuka tidak secara merata terbagi dalam kelompok-kelompok sosial. Michael Pollak[i] sudah menunjukkan bahwa probabilitas lelaki gay yang mengakui identitasnya sebagai gay lebih banyak yang ditemukan pada mereka yang jenjang pendidikannya lebih tinggi.

Namun demikian, gagasan Satrian tentang pilihan yang anda buat ini – pilihan yang dapat atau harus buat- sesuai dengan situasi anda sekarang dan momen dalam kehidupan anda, pilihan yang menjadi genting dalam momen penentu yang khusus ketika seseorang memilih akan menjadi apa, melontarkan sebuah “proyek” yang diarahkan ke masa depan, bagi saya tampaknya dengan begitu baik menggambarkan patahan luar biasa yang berlangsung dalam kehidupan gay pada momen mana pilihan tersebut diambil untuk mengubah relasinya dengan dunia dan pada yang lain. (Sartre menjelaskan pilihan ini sebagai di antara yang “otentik” dan “tidak otentik”.) Pertanyaanya, dilema nyata yang pada suatu hari kelak mengkonfrontasi orang gay, adalah: antara menyatakan apakah anda atau tidak antara memilih untuk menjadi diri sendiri atau gagal menjadi diri sendiri karena keadaannya serba sulit. Ini adalah pilihan antara kebebasan yang anda pilih dan bentuk tindakan atas dasar “itikad buruk” (bad faith), tindakan yang merupakan hasil dari sebuah penolakan untuk menghadapi kebebasan anda. Dari kelas manapun anda berasal – dan bahkan jika pilihan menjadi “bebas” dipermudah oleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau karena berasal dari latar belakang tertentu – semua individu yang distigmatisasi,  pada satu momen,  entah itu dalam kehidupan sehari-hari, dalam lingkungan kerja, dalam lingkaran keluarga, atau di antara teman,  akan tidak terhindar dari konfrontasinya dengan pertanyaan apakah akan terus menyembunyikan apakah mereka sebenarnya atau memilih mengenakan identitas tersebut secara terbuka. Nietzsche pernah  menuliskan  pernyataannya yang terkenal ,” Kamu akan menjadi manusia sebenarnya-benarnya kamu .” Jangan juga lupa bahwa beberapa aforisma setelahnya , ia juga menulis bahwa kebebasan mendasar terjadi ketika “tidak lagi malu di hadapan diri sendiri.”[ii]

Bagi lelaki gay terdapat pertanyaan konstan tentang apakah ia menerima dirinya seperti apa adanya atau menjalani hari-harinya dalam rasa sakit dan malu. Kini meskipun struktur mental dari malu dan dominasi tidak dapat dipahami secara penuh dalam pengertian filsafat kesadaran, tapi kita mesti membiarkan satu tempat terbuka untuk keputusan individu atas dasar kebebasan dan emansipasi – meskipun terang bahwa pilihan individu ini dimungkinkan ada (kecuali dalam beberapa kasus luar biasa) oleh eksistensi konteks sosial dan kultural yang diciptakan oleh “kultur gay” dan kemungkinan dari semacam sosialisasi tandingan yang dimungkinkan oleh budaya, meskipun dikerahkan dari kejauhan.

“Untuk mengatakan “seketika” (instant) adalah seketika yang fatal (fatal instant)” ujar Sartre. Benar adanya bahwa saat ketika pilihan diambil oleh seseorang maka dampaknya menjangkau seluruh masa depan orang tersebut. Sartre melanjutkan “Saat itu adalah pencakupan  yang resiprok dan kontradiktif dari yang sebelum oleh yang setelah. Orang masih menjadi apa yang ia hendak tinggalkan dan sudah menjadi apa yang ia hendak tuju” (StG, 2). Ini adalah penggambaran yang teramat cermat dari struktur temporal  dalam suatu hubungan di dunia gay. Keputusannya untuk tidak lagi berpura-pura dan pilihan- untuk membuka diri ke hadapan temporalitas baru – bahwa seluruh masa depan seseorang telah diubah. Di sini orang dapat menimbang analisa kebebasan Sartre  sebagai “kegelisahan” , karena pilihan itu mirip dengan momen kegilaan yang dapat mengubah bagaimana seseorang sesungguhnya. Jika seorang gay muda didera banyak kegelisahan (dalam pengertiannya yang biasa) di usia ketika pertanyaan pilihan ini hadir (dan seringkali menggangu pikiran untuk waktu lama), ini karena tindakan bebas untuk mengamini kebebasan seseorang terpaut dengan bentuk kegelisahan yang lebih mendalam (di sini dalam pengertian Satrian), yang artinya bahwa tindakan kebebasan tidak punya apapun untuk dijadikan sandaran, termasuk kebebasan itu sendiri.

Tentunya, penggunaan metafora “seketika” (instant) ini bisa membawa kebingungan tersendiri: ia bisa membuat kita menganggap bahwa seorang gay hanya berpartisipasi dalam satu temporalitas saja. Tapi nyatanya ada temporalitas di tempat kerja, di keluarga, di pertemanan, dan seterusnya. Membukanya seseorang bisa berlangsung di satu ruang dan tidak di ruang lain. Bagaimanapun juga, membuka diri ini, yang seringkali dialami sebagai lompatan ke dalam kekosongan oleh mereka yang akhirnya melangkah, selalu didahului dengan berbagai langkah ragu, berputar-putar, pengakuan yang gagal, dan seterusnya. Surat-surat ditulis tapi tidak terkirimkan; perubahan rencana di menit-menit terakhir setelahjanji untuk menyampaikannya pada seorang teman, ibu, saudara, dan seterusnya. Hal ini bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan menahun. Namun akan selalu ada satu hari, satu saat, ketika sesuatu dikatakan-bagaimanapun parsial, bagaimanapun terbatasnya -: pertama kali nya seorang teman diberi tahu atau pertama kalinya ia tidak lagi berpura-pura. Pernyataan semacam ini dapat tersampaikan dalam banyak bentuk. Beberapa orang menyampaikannya dengan gamblang: “Saya harus mengatakan sesuatu padamu”. Beberapa orang secara sengaja meninggalkan sebuah buku atau majalah terbuka. Beberapa cukup dengan mengenalkan pasangannya.

Dengan begitu individu – yang telah menjadi “obyek” tatapan (gaze) orang lain, yang telah dijadikan “obyek” oleh tatapan yang menstigmatisasi, yang telah dibisukan dan dipermalukan oleh hinaan, dan telah direndahkan secara tidak simetris dalam pemosisian sosial homoseksualitas – lantas memutuskan berbalik dan menjadi apa yang dilihat oleh tatapan tersebut. Ia memilih untuk mengidentifikasikan diri dengan identitas yang diberikan. Dan dengan demikian identitas ini bisa dikuasai, dilampaui, diubah, atau diinterpretasikan ulang. Identitas ini tidak lagi perlu ditegaskan dari luar. Ia bisa digarap ulang dari dalam. Orang bisa membuatnya sebagaimana  ia kehendaki, membebaskannya dari keadaannya  yang sudah dikeraskan, menjadikannya basis kebebasannya. “Menangkap kekuatan konstituen dari tatapan ini” (StG, 69), tulis Sartre, dan mengklaim kembali kekuatan membentuk diri sendiri sebagai bagian dari kebebasan seseorang: inilah makna di balik frasenya yang sering dikutip: “Yang terpenting bukanlah apa anggapan yang orang buat atas kita, tapi apa yang kita buat dari anggapan yang dibuat orang tersebut atas kita” (StG, 49).

Tentunya perlakuan Sartre atas orang gay dalam beberapa tulisannya (filsafat, novel, lakon teater, esai politik) kadang bisa jadi sangat buruk. Dia punya kecenderungan  – karena alasan sejarah yang jelas dan juga sikap-sikap homofobik tak sengaja yang orang juga bisa temukan pada Simone de Beauvoir – untuk menggolongkan  homoseksual (karena mereka terlalu banyak “merahasiakan” dirinya, karena mereka berpura-pura, karena mereka tampak jarang mampu memilih keotentikan) ke dalam kategori  “itikad buruk” (bad faith). Dalam Being and Nothingness orang bisa melihat bahwa, seperti juga di beberapa teks lain, pernyataan tidak toleran tentang soal ini. Kita tak terhindar dari konfrontasi dengan keterbatasan pikiran yang menjadi bagian dari prasangka umum[iii] masa itu. Baru pada jelang akhir hidupnyalah, Sartre berupaya untuk menghasilkan analisis politik yang menolak pernyataan-pernyataannya sebelumnya[iv].

Akan tetapi, tetap saja analisisnya tentang “proyek orisinal” atau “seketika yang fatal” – analisis yang arahannya dapat diterapkan secara luas (jangan lupa bahwa tujuan filsafat Sartre dalam Being and Nothingness adalah mengajukan “ontologi fenomenologis) – dapat diambil sebagai gambaran yang sangat baik tentang kehidupan orang gay dan momen pilihan yang harus mereka hadapi- atau hindari, jika mereka mau menyelamatkan diri dari “ventriloquisme” yang dibicarakan Paul Monette. Dari sudut pandang ini menjadi bukan tanpa alasan, dengan konteks yang demikian, untuk menerjemahkan apa yang disebut Sartre sebagai “keotentikan” – pilihan menjadi bebas – sebagai “kebanggaan” atas diri sendiri. Sementara “malu”, “penyamaran” dan “kepura-puraan” dimasukkan ke dalam kotak “itikad buruk”.

Tidak perlu susah-susah memlintir teks Satre untuk menunjukkan hal ini. Pemahaman filosofis yang digarap dalam Being and Nothingness meletakkan landasan  bagi refleksinya pada tahun 1946 dalam Anti-Semite and Jew (Refléxions sur de la question juive) dan banyak lagi pemikiran lain dalam karya tersebut yang dengan mudah bisa dialihkan  juga ke “pertanyaan gay”. Mungkin ini bukan tempatnya untuk berpanjanglebar tentang pernyataan Sartre yang terkenal: “ orang Yahudi adalah apa yang dianggap  orang lain sebagai orang Yahudi”[v]. Kritik Hannah Arendt pada ide ini sudah dikenal cukup luas, meskipun belum tentu kritik ini juga tepat sasaran[vi]. Namun mengingat apa yang sedang kita angkat sekarang, penting untuk menekankan bahwa Satre menawarkan pemahaman tentang “situasi” sebagai jangkar yang “menautkan kesan kesatuan dalam komunitas Yahudi”. Bukanlah masa lalu, agama, atau wilayah yang membuat “menjadi Yahudi” (being Jewish). Jika mereka semua layak mendapatkan nama orang Yahudi, ini karena mereka punya situasi bersama sebagai orang Yahudi, yaitu mereka hidup dalam komunitas yang menerima mereka sebagai orang Yahudi.”[vii] Akibatnya, akan selalu ada “keharusan yang dipaksakan atas orang Yahudi.. untuk mengandaikan sebuah kepribadian hantu (phantom personality)… yang mengusik orang tersebut dan sebenarnya bukanlah apa-apa melainkan dirinya sendiri – dirinya sendiri di mata orang lain” (78). “Asumsi” ini bisa berlangsung dalam dua cara yang berlawanan:

Keotentikan, -nyaris tak perlu dijelaskan lagi, terdiri dari kesadaran yang sejati dan jernih atas situasi yang tengah dihadapi, dalam menempuh tanggungjawab dan risiko yang dikandungnya, dalam menerimanya dengan kebanggaan dan kerendahan hati, kadang dalam ketakutan dan kebencian. Tidak  diragukan lagi keotentikan menuntut banyak keberanian dan lebih banyak lagi dari keberanian. Sehingga tidak heran orang jarang sekali menempuhnya… Dan orang Yahudi tidak terbebas dari aturan ini: keotentikan baginya adalah menghidupi kondisinya sebagai orang Yahudi sepenuhnya; ketidakotentikan adalah mengingkarinya atau mencoba menghindar darinya (90-91).

Karena “kepribadian hantu”  itu mengusik orang gay meskipun ia tidak menginginkannya dan karena “kepribadian” ini tidak lain adalah “dirinya sendiri sebagaimana orang melihatnya selama ini”,- atau situasi yang kurang lebih sama, dirinya sendiri mengisi tempat terhina yang disediakan tatanan seksual – bahwa semua lelaki gay suatu hari akan “menanggung” kepribadian ini, harus memilih jadi dirinya yang sebenarnya atau menyerahkan kebebasannya dan membinasakan dirinya sendiri sebagai manusia demi mematuhi tuntutan masyarakat yang menghinanya sebagai homoseksual sekaligus menolak haknya untuk mengumumkan bahwa ia seorang gay. Satre berkata “Orang Yahudi yang tidak otentik” (Inauthentic Jews), adalah orang yang dianggap Yahudi oleh orang lain dan telah memutuskan untuk kabur dari situasi yang tak tertahankan itu.”[viii] Oleh karena itu “ketidakotentikan” sama dengan  bentuk penyerahan diri pada tatanan sosial dan struktur yang opresif, sementara “keotentikan” , di atas segalanya, adalah penolakan atas tatanan tersebut. Jelas alasannya sekarang mengapa Sartre kemudian mengatakan bahwa keotentikan hanya bisa mengejawantah “dalam revolusi”.[ix]

Keotentikan dapat dijumpai dalam keputusan untuk menanggung beban menjadi siapa diri itu sebenarnya (the burden of being what one is): menjadi gay (to be gay) bukan sekedar sebagai en soi, (dengan kata lain menyesuaikan diri dengan tatapan yang lain, tatapan masyarakat), melainkan pour soi (yaitu, menanggung identitas bagi diri sebagai proyek kebebasan). Tatapan sosial membangun en soi homoseksualitas bagi semua orang gay, bahkan mereka yang belum membuka diri:  citra dan “peran”, identitas yang “bisa didiskreditkan”, yang ditetapkan atas mereka. Oleh sebab itu lelaki gay harus menjadikan (makes) dirinya sendiri gay untuk menghindari kekerasan yang diajukan oleh masyarakat yang juga membuatnya menjadi gay (makes him be gay). Dalam tulisan politisnya pada tahun 1970an, misalnya, Sartre  mengatakan bahwa orang Basque harus “menjadikan dirinya sendiri orang Basque) [se fair Basque]” untuk melawan penindasan yang dialaminya karena menjadi orang Basque (being Basque)[x]. Tentunya orang bisa saja mengajukan keberatannya, bahwa lebih mudah untuk memahami apa artinya “menjadi orang Basque” ketimbang apa artinya “menjadi gay”. Banyak kesulitan tentang “keotentikan” bagi orang gay memang terletak pada kesulitan mengidentifikasikan dirinya dengan “identitas” yang selalu plural, selalu beragam: ia menjadi identitas tanpa identitas, atau tepatnya, identitas tanpa esensi – identitas yang masih harus diciptakan[xi]. Dampaknya, bagi seseorang yang telah memutuskan untuk tidak lagi menanggung semua beban makna psikologis yang diimposisikan oleh wacana sosial dan budaya atas homoseksualitas (baik legal, medis, psikoanalisis, dan seterusnya), adalah tidak adanya “saya”, tidak adanya “ego”, untuk menjadi (to be) apa yang sudah lebih dulu ada yang harus diwujudkan ke dalam eksistensi. Ini yang membuat Henning Bech berkesimpulan bahwa seorang gay “terlahir sebagai eksistensialis”, karena eksistensi (selalu) mendahului esensi: identitas gay, segera setelah ia menjadi pilihan, -ketimbang bentuk penyerahan diri, tidak pernah menjadi sesuatu yang sudah ditentukan[xii]. Agar bisa dikonstruksikan, ia akan merujuk pada model-model yang sudah terlebih dulu ada dan tampak (dengan segala ragam bentuknya). Orang lantas bisa berkata bahwa proyek “membuat diri sendiri jadi gay” (se faire gay) tidak hanya berarti menciptakan diri sendiri, tapi menciptakan diri sendiri melalui terang, -diilhami oleh,  contoh-contoh yang sudah tersedia dalam masyarakat dan dalam sejarah. Jika “identitas” itu ada, maka ia akan menjadi identitas pribadi yang diciptakan dalam hubungannya dengan identitas kolektif. Ia akan menciptakan dirinya sendiri dalam dan melalui “tipe-tipe sosial”, “peran” yang orang “mainkan”, yang keberadaannya juga tersusun atas kontribusi dari orang dalam bentuk rekreasi kolektif dari subyektivitas gay.

Akan selalu ada “kepribadian hantu” (phantom personage) yang mengusik setiap orang gay dalam masyarakat kontemporer. Ia bukanlah hantu yang diciptakan oleh “tatapan” orang lain, tapi hantu yang melawan tatapan ini, yang dikonstruksikan untuk melawannya melalui kekasatmataan gay (gay visibility) itu sendiri. Akibatnya “menjadikan” diri sendiri sebagai gay menempuh makna yang tidak begitu metafisik ketimbang “keotentikan”  yang dinyatakan Sartre: karena ini hanya sesederhana persoalan seseorang mengidentifikasikan dirinya pada kolektivitas yang sudah terlebih dulu ada – meskipun identitas yang dihasilkan kolektivitas itu sendiri tidak pernah stabil. Ia telah mengalami evolusi tanpa akhir sepanjang abad ini. (Tampaknya mungkin saja bahwa hanya dalam jangka waktu pendek telah terjadi perubahan mendalam, bahkan seorang lelaki gay pada akhir 1990-an sangat berbeda dengan lelaki gay tahun 1970-an). Penciptaan kolektif selamanya bergerak melampaui dirinya sendiri. Ia sangat tidak dapat diduga. Ia membuka sejarah menuju kebebasan

(Didier Eribon. 2004. “Existence Precedes Essences” dalam Insult and the Making of the Gay Self. Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Michael Lucey. Duke University Press, Durham dan London. Hal. 97-106. Dialihbahasakan  oleh Ferdiansyah Thajib)

CATATAN:

[i] Pollak, Le Homosexuels et le sida. Penemuan ini membawa kita kembali pada isu over-represnetasi dari orang dengan pendidikan tinggi dalam sampel-sampel yang dihasilkan secara spontan dan seringkali digunakan dalam studi sosiologi. Tapi pada gilirannya ini tiak harus mengarahkan kita pada pengabaian atas fenomena penting tentang mobilitas ke atas (upward mobility). Kedua isu ini sama-sama mengantarkan kita pada pemandangan yang lebih kompleks atas kausalitas yang dibeberkan Pollak: menjadi tidak cukup untuk mengatakan bahwa hanya gay yang punya modal budaya yang lebih tinggi yang punya posisi terbaik untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai gay. Melainkan, sebelum itu, adalah dorongan untuk bisa mengidentifikasi diri sebagai gay lah (dengan cara apapun itu, bahkan dengan melakukan penolakan sementara atas diri sendiri) yang mengantarkan prang (tapi bagaimana tepatnya ini terjadi?) pada upaya menempuh pendidikan lebih tinggi.

[ii] Nietszche, The Gay Science, 219-20.

[iii] Ambil contoh, tokoh Daniel dalam novel serial The Roads to Freedom. Untuk homofobia Sartre, orang juga bisa lihat teks yang menggambarkan para lelaki yang berkolaborasi dengan pihak Jerman selama Perang Dunia Kedua, sebagai “pengecut”, untuk mengatakan “feminin”, untuk mengatakan “homoseksual”.  Untuk menguatkan pendapatnya, ia mencatat bahwa “Lingkaran homoseksual Paris  menyediakan banyak rekrut cerdas ke dalam kolaborasi itu” (Sartre, “Qu’est-ce qu’un collaborateur?” 58) Di sini kita melihat konsep tradisional tentang lelaki gay sebagai pengkhianat bangsa. (Sudah barang tentu Sartre tahu bahwa banyak orang sering menyinggungnya ketika menyerang Gide), konsep yang tampaknya digunakan Sartre lagi ketika kita membaca bagaimana Daniel bersorak atas kedatangan tentara Jerman di Paris. (Charlus dalam Time Regained karya Proust, merupakan bukti bagi pecinta Jerman yang lain, mengungkapkan konsistensi tertentu tentang representasi lelaki gay di sepanjang waktu). Tentang homofobia Simone de Beauvoir, lihat dari korespondensinya dengan Nelson Algren, di dalamnay ia berkelakar terus tentang  “banci-banci” (fairies and pansies) (Beauvoir,  A Transatlantic Love Affair).

[iv] Lihat wawancaranya dalam  majalah gay Gai Pied Hebdo. Dalam wawancara tersebut, dia berkata “Saya kira untuk saat ini, homoseksualitas diharuskan untuk tetap terisolir, menjadi kelompok dalam masyarakat yang munafik, kelompok marjinal yang tidak dapat diintegrasikan ke dalam masyarakat. Mereka harus menolak masyarakat dan bahkan, dengan cara tertentu, membencinya. Homoseksual wajib untuk menolak masyarakat tersebut, dan satu-satunya hal yang bisa mereka harapkan untuk saat ini adalah, di beberapa negara, semacam  ruang bebas di mana mereka bisa bertemu satu sama lain, seperti yang terjadi di Amerika Serikat, misalnya.

[v] Sartre, Anti-Semite and Jew, 69.

[vi] Setelah menyatakan bahwa Zionisme dalam pengertian tertentu adalah “ideologi tandingan” atas ideologi antisemitis, Arendt menambahkan, “ Secara kebetulan, ini bukan untuk mengatakan bahwa kesadaran diri Yahudi hanya sekedar ciptaan dari antisemitisme; bahkan pengetahuan sekilas sejarah Yahudi, yang perhatian utamanya sejak pengasingan Babilon selalu berupa kelangsungan hidup  orang di tengah tantangan persebaran yang teramat berat, dengan mudah dapat menepis mitos termutakhir mengenai persoalan ini, mitos yang tampaknya telah menjadi trend baru dalam lingkaran intelektual setelah interpretasi ‘eksistensialis’ Sartre atas orang Yahudi yang dianggap dan didefinisikan sebagai Yahudi melalui pandangan orang lain.” (Arendt, The Origins of Totalitarianism, xv). Kritik ini (dilandasi oleh pembacaan yang naïf atas teks Sartre) tampaknya tidak terlalu relevan, karena jelas bahwa Sartre bukan mau mengatakan bahwa tidak ada tradisi budaya Yahudi, alih-alih bahwa tidak ada “alamiahnya”, tidak ada “esensinya”, dalam “menjadi Yahudi’.  Akibatnya, menjadi Yahudi adalah untuk didefinisikan sebagai demikian dalam masyarakat tertentu.  Tentu saja, Sartre kemudian (dalam wawancaranya tahun 1966)  mengakui bahwa seharusnya dia menyertakan kekhususan sejarah ini dalam argumennya. Namun dalam wawancara yang sama ia bersikeras bahwa menurut pandangannya gambaran yang ia sampaikan tentang oposisi structural antara “keotentikan” dan “ketidakotentikan”  tetap berlaku (dikutip dalam Contat dan Rybalka, Les Écrits de Sartre, 140).

[vii] Sartre, Anti-Semite and Jew, 67.

[viii] Ibid., 93. Dia juga menuliskan: “Banyak orang Yahudi yang tidak otentik juga bermain-main dengan tidak menjadi Yahudi” (96). Ini memunculkan kembali definisi tentang “itikad buruk” yang dinyatakan dalam Being  and Nothingness:” Tindakan pertama dari itikad buruk adalah kabur dari yang tidak bisa dihindarinya, kabur dari dirinya sendiri (Sartre, Being  and Nothingness, 108).

[ix] Sartre, Anti-Semite and Jew, 108.

[x] Sartre, “Textes politiques”, 23.

[xi] David Halperin juga menulis tentang “identitas tanpa esensi” dalam Saint Foucault.

[xii] Bech, When Men Meet, 97. Lihat juga Halperin, Saint Foucault.