LITERATUR

dari “Seniman, Makelar, dan Publik: Inovasi atau Demokratisasi?” oleh Néstor Garcia Canclini

(…)Dari Paz ke Borges: Perilaku di hadapan Televisi

Para seniman dan penulis yang paling berkontribusi bagi independensi dan profesionalisasi  ranah kebudayaan menjadikan kritik terhadap negara dan pasar sebagai poros argumentasi mereka. Tapi untuk alasan yang berbeda, penolakan atas kekuasaan negara cenderung lebih keras dan konsisten ketimbang penolakan terhadap pasar.Teksnya Cabrujas, yang kami kutip di bab “Pembuka” dalam buku ini, memperparah salah satu tesis yang paling sering  kita dengar: Anda tidak dapat menganalisis negara-negara Amerika Latin karena mereka tidak bisa disikapi terlalu serius; tapi para penulis naskah panggung ini, yang menghasilkan karya-karya untuk teater berbudaya dan pada saat bersamaan adalah  penulis naskah opera sabun Venezuela paling sukses, tidak merumuskan suatu refleksi kritis serupa  terhadap industri budaya. Penjelasan mengapa ia membuat sinetron sepanjang  dua ratus jam, mengadaptasi karya dramatisnya untuk memenuhi standar produksi televisi, adalah alasan yang pramodern: ia ingin agar orang Amerika Latin “mengenal mitos besar tentang dirinya sendiri” dan  “mengakuinya sebagai mitos yang indah dan luhur “(Gabaldon dan Fuentes, 8).

Kami akan berlama-lama dengan posisi Octavio Paz, yang lebih berhasil dan berpengaruh. Dimulai dengan teks-teks awalnya, di mana  ia menyatakan bahwa kebebasan yang dibutuhkan seniman diperoleh dengan menjauhkan diri dari “sang pangeran” dan pasar. Namun faktanya,  ia menyatakan kemarahan yang semakin besar terhadap kuasa negara dalam karyanya, sementara ia mencari kemungkinan hubungan yang produktif dengan pasar, dan dukungan dari media demi meluaskan wacananya. Penekanan Paz yang anti-negara  bercampur dengan dipertahankannya suatu konsepsi yang sekaligus tradisional dan modern, ambivalen, atas otonomi ranah kesenian.

Paz adalah purwarupa penulis berbudaya; bukan hanya karena tuntutan beban eksperimentasi formalnya pada pembaca, pengetahuan implisit yang menunjukkan kepadatan puisi dan esai-esainya, dan keterlibatan orang-orang yang punya satu rujukan dengannya dalam soal karya sastra dan estetika, tetapi juga karena dalam interpretasinya atas budaya, sejarah, dan politik; ia terutama tertarik pada kaum elit dan gagasan. Sesekali dia menyebutkan gerakan sosial, perubahan teknologi, dan perubahan-perubahan material dalam kapitalisme dan sosialisme, tapi ia tidak pernah memeriksa proses-proses ini secara sistematis;  referensinya ke struktur sosial ekonomi adalah gejala-gejala skenografis yang dengan cepat ia kesampingkan demi melanjutkan ke hal sebenarnya yang menjadi perhatian utamanya:  gerakan kesenian dan sastra, dan khususnya pencipta individu dan reaksi mereka terhadap “ancaman”  teknis dan birokrasi negara.

Lanjutkan →

Eksistensi Mendahului Esensi

Terbukanya  (baca: coming out) individu manapun, dalam kondisi apapun yang memfasilitasi atau mencegahnya, selalu merupakan tindakan personal yang intens, pengalaman yang menyerupai apa yang dinamakan Sartre sebagai “pilihan orisinal” (original choice), dengan kata lain, pilihan yang setiap orang secara bebas diambil seseorang untuk kehidupannya sendiri. Tentu saja, kini setelah semua yang kita pelajari dari psikoanalisis, antropologi, lingusitik, sosiologi, dan seterusnya,  menjadi sulit untuk menerapkan filsafat kebebasan Sartrian ini sepenuhnya,  yang  mengandaikan bahwa kesadaran hanya transparan bagi diri sendiri, atau setidaknya, bahwa kesadaran hanya terbatas dalam kesadaran itu sendiri. Kita telah melihat bagaimana selama ini struktur-struktur sosial, sejarah, dan seksual dituliskan ke dalam tubuh dan pikiran individu, bagaimana struktur-struktur ini menghasilkan determinasi-determinasi yang tidak dapat dianalisis lewat pengertian tentang pilihan sadar. Misalnya, dapat dilihat bagaimana tindakan membuka tidak secara merata terbagi dalam kelompok-kelompok sosial. Michael Pollak[i] sudah menunjukkan bahwa probabilitas lelaki gay yang mengakui identitasnya sebagai gay lebih banyak yang ditemukan pada mereka yang jenjang pendidikannya lebih tinggi.

Namun demikian, gagasan Satrian tentang pilihan yang anda buat ini – pilihan yang dapat atau harus buat- sesuai dengan situasi anda sekarang dan momen dalam kehidupan anda, pilihan yang menjadi genting dalam momen penentu yang khusus ketika seseorang memilih akan menjadi apa, melontarkan sebuah “proyek” yang diarahkan ke masa depan, bagi saya tampaknya dengan begitu baik menggambarkan patahan luar biasa yang berlangsung dalam kehidupan gay pada momen mana pilihan tersebut diambil untuk mengubah relasinya dengan dunia dan pada yang lain. (Sartre menjelaskan pilihan ini sebagai di antara yang “otentik” dan “tidak otentik”.) Pertanyaanya, dilema nyata yang pada suatu hari kelak mengkonfrontasi orang gay, adalah: antara menyatakan apakah anda atau tidak antara memilih untuk menjadi diri sendiri atau gagal menjadi diri sendiri karena keadaannya serba sulit. Ini adalah pilihan antara kebebasan yang anda pilih dan bentuk tindakan atas dasar “itikad buruk” (bad faith), tindakan yang merupakan hasil dari sebuah penolakan untuk menghadapi kebebasan anda. Dari kelas manapun anda berasal – dan bahkan jika pilihan menjadi “bebas” dipermudah oleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau karena berasal dari latar belakang tertentu – semua individu yang distigmatisasi,  pada satu momen,  entah itu dalam kehidupan sehari-hari, dalam lingkungan kerja, dalam lingkaran keluarga, atau di antara teman,  akan tidak terhindar dari konfrontasinya dengan pertanyaan apakah akan terus menyembunyikan apakah mereka sebenarnya atau memilih mengenakan identitas tersebut secara terbuka. Nietzsche pernah  menuliskan  pernyataannya yang terkenal ,” Kamu akan menjadi manusia sebenarnya-benarnya kamu .” Jangan juga lupa bahwa beberapa aforisma setelahnya , ia juga menulis bahwa kebebasan mendasar terjadi ketika “tidak lagi malu di hadapan diri sendiri.”[ii]

Lanjutkan →



Situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Lisence BY-SA-NC.
RSS // Ruang Laba